A. Sejarah Singkat Berdiri dan Perkembangan Bank Muamalat Indonesi
Ide
kongkrit Pendirian Bank Muamalat Indonesia berawal dari loka karya
“Bunga Bank dan Perbankan” yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia
(MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 di Cisarua. Ide ini kemudian lebih
dipertegas lagi dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) ke
IV MUI di Hotel
Sahid Jaya Jakarta tanggal 22-25 Agustus 1990 yang mengamanahkan kepada
Bapak K.H. Hasan Bahri yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum MUI,
untuk merealisasikan pendirian Bank Islam tersebut. Setelah itu, MUI
membentuk suatu Kelompok Kerja (POKJA) untuk mempersiapkan segala
sesuatunya. Tim POKJA ini membentuk Tim Kecil “Penyiapan Buku Panduan
Bank Tanpa Bunga”, yang diketuai oleh Bapak Dr. Ir. M. Amin Azis[1].
Hal
paling utama dilakukan oleh Tim MUI ini di samping melakukan
pendekatan-pendekatan dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait adalah
menyelenggarakan pelatihan calon staf melalui Management Development Program (MDP)
di Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI), Jakarta yang dibuka
pada tanggal 29 Maret 1991 oleh Menteri Muda Keuangan, dan meyakinkan
beberapa pengusaha muslim untuk jadi pemegang saham pendiri. Untuk
membantu kelancaran tugas-tugas MUI ini dibentuklah Tim Hukum Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang di bawah Ketua Drs. Karnaen
Perwaatmadja, MPA. Tim ini bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu
yang menyangkut aspek hukum Bank Islam.
Pada
tanggal 1 November 1991 terlaksana penandatanganan Akte Pendirian PT.
Bank Muamalat Indonesia di Sahid Jaya Hotel dihadapan Notaris Yudo
Paripurno, SH. dengan Akte Notaris No.1 tanggal 1 November 1991 (Izin
Menteri Kehakiman No. C2.2413.HT.01.01 tanggal 21 Maret 1992/Berita Negara RI tanggal 28 April 1992 No.34)[2]. Pada saat penandatanganan Akte Pendirian ini terkumpul komitmen pembelian saham sebanyak Rp 48 miliar.
Selanjutnya, pada acara silaturahmi pendirian Bank Syari’ah di Istana Bogor, diperoleh tambahan
komitmen dari masyarakat Jawa Barat yang turut menenm modal senilai Rp
106 miliar. Dengan angka modal awal ini Bank Muamalat mulai beroperasi
pada tanggal 1 Mei 1992 bertepatan dengan tanggal 27 Syawal 1412 H, SK
Menteri Keuangan RI No. 1223/MK. 013/1991 tanggal 5 November 1991
diikuti oleh izin usaha keputusan MenKeu RI No. 430/KMK.013/1992 tanggal
24 April 1992[3].
Pada hari Jum’at, 27 Syawal 1412 H, bertepatan dengan tanggal 1 Mei
1992, Menteri Keuangan dan dengan dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia,
meresmikan mulai beroperasinya Bank Muamalat dalam upacara “Soft Opening” yag diadakan di Kantor Pusat Bank Muamalat di Gedung Arthaloka, Jl. Jend. Sudirman Kav. 2 Jakarta.
Pada
tanggal 27 Oktober 1994, Bank Muamalat berhasil menyandang predikat
sebagai Bank Devisa yang semakin memperkokoh posisi perseroan sebagai
Bank Syari’ah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam jasa
maupun produk yang terus dikembangkan. Pada saat Indonesia dilanda
krisis moneter, sektor Perbankan Nasional
tergulung oleh kredit macet di segmen korporasi. Bank Muamalat pun
terimbas dampak krisis. Pada tahun 1998, Perseroan mencatat rugi sebesar
Rp 105 miliar.
Dalam upaya memperkuat permodalannya, Bank Muamalat mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank
(IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21
Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank
Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 sampai 2002
merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi
Bank Muamalat karena berhasil membalikkan kondisi dari rugi menjadi laba
dari upaya dan dedikasi setiap Pegawai Muamalat, ditunjang oleh
kepemipinan yang kuat, strategi pengembangan usaha yang tepat, serta
ketaatan terhadap pelaksanaan Perbankan Syari’ah secara murni.
Diawali
dari pengangkatan kepengurusan baru dimana seluruh anggota Direksi
diangkat dari dalam tubuh Muamalat, Bank Muamalat kemudian menggelar
rencana kerja lima tahun dengan penekanan pada:
1. Restrupegawairisasi asset dan program efisiensi
2. Tidak mengandalkan setoran modal tambahan dari para pemegang saham,
3. Tidak
melakukan PHK satu pun terhadap Sumber Daya Insani yang ada, dan dalam
hal pemangkasan biaya, tidak memotong hak Pegawai Muamalat sedikit pun,
4. Pemulihan kepercayaan dan rasa percaya diri Pegawai Muamalat menjadi prioritas utama di tahun pertama kepengurusan Direksi baru
5. Peletakan landasan usaha baru dengan menegakkan disiplin kerja Muamalat menjadi agenda utama di tahun kedua, dan
B. Visi dan Misi Bank Muamalat Indonesia
- Visi
Menjadi Bank Syari’ah utama di Indonesia, dominan di pasar spiritual, dikagumi di pasar rasional.
- Misi
Menjadi
role model Lembaga Keuangan Syari’ah dunia dengan penekanan pada
semangat kewirausahaan, keunggulan manajemen dan orientasi investasi
yang inovatif untuk memaksimumkan nilai kepada stakeholder.
C. Tujuan Berdiri Bank Muamalat Indonesia
Adapun tujuan berdiri Bank Muamalat Indonesia yaitu:
- Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia, sehingga semakin berkurang kesenjangan sosial ekonomi, dan dengan demikian akan melestarikan pembangunan nasional, antara lain melalui:
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan usaha
b. Meningkatkan kesempatan kerja
c. Meningkatkan penghasilan masyarakt banyak
- Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan terutama dalam bidang ekonomi keuangan, yang selama ini masih cukup banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank karena masih menganggap bahwa bunga bank itu riba.
- Mengembangkan lembaga bank dan system Perbankan yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan, mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga menggalakkan usaha-usaha ekonomi rakyat antara lain memperluas jaringan lembaga Perbankan ke daerah-daerah terpencil.
- Mendidik dan membimbing masyarakat untuk berpikir secara ekonomi, berperilaku bisnis dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
D. Struktur Organisasi Bank Muamalat Indonesia
- Dewan Pengawas Syari’ah:
a. KH. M. A. Sahal Mahfudh Ketua
b. KH. Ma’ruf Amin Anggota
c. Prof. Dr. Umar Shihab Anggota
d. Prof. Dr. H. Muardi Chatib Anggota
- Dewan Komisaris:
a. Drs. H. Abbas Adhar Komisaris Utama
b. Prof. Korkut Ozal Komisaris
c. DR. Ahmed Abisoursour Komisaris
d. H. Iskandar Zulkarnain, SE. Msi Komisaris
e. Drs. Aulia Pohan, MA Komisaris
- Direksi:
a. H.A. Riawan Amin, Msc Direktur Utama
b. Ir. H. Arviyan Arifin Direktur
c. H. M. Hidayat, SE, Ak. Direktur
d. Ir. H. Andi Buchari, MM Direktur
e. Drs. U. Saefudin Noer Direktur
- Kepala Grup:
a. Afrid Wibisono Administration
b. Avantiono Hadhianto Business Development
c. Muchtar MD. Siswoyo financing Support
d. Zulkarnain Hasibuan Internal Audit
- Rapat Umum Pemegang Saham (Shareholders Meeting)
Adalah
dewan tertinggi yang ada di Bank Muamalat Indonesia. Tugasnya memimpin
rapat pemegan saham serta mengawasi jalannya kegiatan yang dilaksanakan
oleh Bank Muamalat Indonesia.
- Dewan Komisaris (Board of Commissioner)
Adalah
wakil dari pemegang saham yang mempunyai peran sebagai pengawas dan
bersama Dewan Direksi merumuskan strategi jangka panjan perusahaan.
Adapun tugas Dewan Komisaris adalah sebagai berikut:
1) Mengawasi kebijaksanaan Direksi dalam menjalankan Perseroan serta memberi nasihat kepada Dewan Direksi.
2) Melakukan tugas-tugas secara kusus diberikan kepadanya menurut Anggaran Dasar.
3) Melakukan pengawasan aatas tugas-tugas yang diputuskan oleh Rapat Umum Pemegang Saham.
4) Mengawasi
pelaksanaan rencana kerja dan anggaran dasar Perseroan serta
menyampaikan hasil penilaian serta pendapatnya kepada Rapat Umum
Pemegang Saham.
5) Mengikuti
perkembangan kegiatan Perseroan, dan dalam hal Perseroan menunjukkan
gejala kemunduran, segera melaporkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham
dengan disertai saran mengenai langkah perbaikan yang harus ditempuh.
6) Memberikan
pendapat dan saran kepada Rapat Umum Pemegang Saham mengenai setiap
persoalan yang dianggap penting bagi pengelolaan Perseroan.
7) Melakukan
tugas-tugas pengawasan lainnya yang ditentukan oleh Rapat Umum Pemegang
Saham dan tugas lain yang berhubungan dengan pemeriksaan dan
pengawasan.
- Dewan Pengawas Syari’ah (Sharia Supervisory Board)
Dewan
Pengawas Syari’ah dalam organisasi bank bersifat independen dan
terpisah dari pengurus bank, sehingga tidak mempunyai akses terhadap
operasional Bank. Adapun tugas dan wewenang Dewan Pengawas Syari’ah
adalah sebagai berikut:
1) Melakukan
pengawasan atas produk Perbankan dalam menghimpun dana dari masyarakat
dan menyalurkannya kepada masyarakat agar berjalan sesuai dengan prinsip
Syari’ah.
2) Memberikan pedoman dan garis-garis besar Syari’ah.
3) Mengadakan perbaikan atas produk yang tidak sesuai dengan Syari’ah.
4) Memberikan jawaban dalam bentuk fatwa atas permasalahan yang dihadapi pihak eksekutif dan operasi.
5) Memeriksa Buku Laporan Tahunan dan kesesuaian Syari’ah disemua produk dan operasi selama tahun berjalan.
6) Memberikan nasihat kepada Direksi dan Komisaris agaar seluruh kegiatan Perbankan sesuai dengan Syari’ah Islam.
- Operation Director
Mempunyai
wewenang dan tanggung jawab membuat kebijakan khususnya dalam bidang
operasional, melaksanakan koordinasi dan pembinaan bawahan serta
pengawasan kegiatan operasional. Tugas pokok Direksi adalah:
1) Memimpin
dan mengurus Perseroan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan dan
senantias berusaha meningkatkan efisiensi dan efektifitas Perseroan.
2) Menguasai, memelihara dan mengurus kekayaan Perseroan.
- Administration Group
Ruang lingkup kerja:
1) melakukaan supervisi dan monitoring terhadap segenap Kantor Cabang atas pelaksanaan atau jalannya operasional.
2) Melakukan konsolidasi terhadap pembuatan dan monitoring Laporan-laporan Bulanan Keuangan Bank dan menyampaikannya pada pihak intern atau ekstern yang berkepentingan.
3) Melakukan koordinasi dalam pelaksanaan repegawaiitmen dan seleksi calon karyawan,
proses administrasi kegiatan penempatan dan penempatan kembali
karyawan, proses terminasi atau pengunduran diri karyawan serta
memonitor dan memeliharaa data base kepersonaliaan.
4) Melakuakn
proses dan administrasi pembiayaan karyawan, pembayaran gaji serta
pembayaran JAMSOSTEK dan pajak (pph 21) seluruh karyawan serta pengurus
Bank.
5) Melakuakn
koordinasi dalam penyediaan sarana logistik dalam rangka persiapan
pembukaan atau pengembangan Kantor Cabang meliputi jaringan komuniaksi
dan sarana penunjang operasional lainnya.
6) Melakukan koordinasi terhadap pengelola sistem komunikasi data untuk mendukung operasional online pusat pengolahan data keseluruhan Cabang Bank Muamalat Indonesia serta berkoordinasi dengan pihak ekstern.
- Corporate Support Group
Ruang lingkup kerja:
1) Menyiapkan dan melaksanakan legal action atas kebijakan manajemen.
2) Memberikan masukan dalam penyusunan manual, prodik, akad, dan keputusan yang terkait dengan aspek hokum.
3) Meningkatkan pengetahuan dalam positif masyarakat tentang Bank Muamalat Indonesia.
4) Membangun pendekatan dan citra positif Bank Muamalat Indonesia pada emotional market.
5) Meraih dukungan moril maupun materil dari stakeholder maupun new investor.
- Internal Audit Group
Ruang lingkup kerja:
1) Berwenang
untuk melakukan akses terhadap catatan karyawan, sumber daya dan dana
serta asset bank lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan audit.
2) Memeriksa dan menilai atas kecukupan dari struktur pengendalian intern.
3) Memeriksa dan menilai kualitas kerja dalam melaksanakan tanggung jawab yang telah dilaksanakan.
4) Memberikan
saran perbaikan baik untuk kecukupan dan efefktifitas atau kehandalan
struktur pengendalian intern maupun perbaikan pelaksanaan.
5) Memberikan informasi dan saran kepada manajemen mengenai hal-hal yang berkaitan dengan upaya menjadikan Bank lebih maju.
- Business Development Group
Ruang lingkup kerja:
A. Marketing:
1) Marketing plan dan marketing strategy sebagai guidance bagi Cabang.
2) Bersama financing dan sattlement group membuat target lending dan funding revenue system dan technology.
3) Melakukan pengembangan sistem dan teknologi untuk mendukung operasional Bank.
B. Produk dan Development:
1) Melakukan riset, survey, dan pengembangan produk.
2) Melakukan review produk dan fitur produk.
3) Merumuskan tarif layanan produk.
C. SISOP dan UAT (USSER acceptance Test)
1) Merencanakan, menyusun atau membuat dan memperbaiki prosedur peraturan atau kebijakan pribadi.
2) Menyebarluaskan ketentuan pemerintah seprti SEBI, PP, Undang-undang dan sejenisnya untuk bidang operasi Bank.
3) Sosialisasi dan emplementasi prosedur yang telah dibuat dan direvisi.
4) Memantau dan melakukan supervise terhadap layanan dan operasi selindo, sehingga kualitas layanan dan operasi dapat dipenuhi.
5) Melakukan UAT atas produk atau program yang akan diluncurkan dan disesuaikan dengan manual operasi yang dibuat.
- Financing Support Group
Ruang lingkup kerja:
1) Financing Supervision
2) Sharia Financial Iinstitution
3) Financing Product Development
- Network and Alliance Group
Ruang lingkup kerja:
1) Network Alliance (POS, Da’I Muamalat, Pegadaian)
2) Shar-E and Gerai Optimizing
3) Virtual Banking Operations (Call Center and Card Center)
E. Produk-produk Bank Muamalat Indonesia
1. Produk Penghimpuanan Dana (Funding Products)
a. Shar-‘e
Shar-‘e adalah tabungan instan investasi syari’ah yang memadukan kemudahan akses ATM, Debit dan Phone Banking
dalam satu kartu dan dapat dibeli di kantor pos seluruh Indonesia.
Hanya dengan Rp 125.000, langsung dapat diperoleh satu kartu Shar-‘e
dengan saldo awal tabungan Rp 100.000, sebagai sarana menabung
berinvestasi di Bank Muamalat. Shar-‘e dapat dibeli melalui kantor pos.
diinvestasikan hanya untuk usaha halal dengan bagi hasil kompetitif.
Tarik tunai bebas biaya di lebih dari 8.888 jaringan ATM BCA/PRIMA dan
fasilitas SalaMuamalat. (phone banking 24 jam untuk layanan otomatis cek
saldo, informasi history transaksi, transfer antara rekening sampai dengan 50 juta dan berbagai pembayaran).
b. Tabungan Ummat
Merupakan investasi tabungan dengan aqad Mudharabah
di Counter Bank Muamalat di seluruh Indonesia maupun di Gerai Muamalat
yang penarikannya dapat dilakukan di seluruh Counter Bank Muamalat, ATM
Muamalat, jaringan ATM BCA/PRIMA dan jaringan ATM Bersama. Tabungan
Ummat dengan Kartu Muamalat juga berfungsi sebagai akses debit di
seluruh Merchant Debit BCA/PRIMA di seluruh Indonesia. Nasabah memperoleh bagi hasil yang berasal dari pendapatan Bank atas dana tersebut.
c. Tabungan Haji Arafah
Merupakan
tabungan yang dimaksudkan untuk mewujudkan niat nasabah untuk
menunaikan ibadah haji. Produk ini akan membantu nasabah untuk
merencanakan ibadah haji sesuai dengan kemampuan keuangan dan waktu
pelaksanaan yang diinginkan. Dengan fasilitas asuransi jiwa, Insya Allah
pelaksanaan ibadah haji tetap terjamin. Dengan keistimewaan tersebut,
nasabah Tabungan Arafah bisa memilih jadwal waktu keberangkatannya
sendiri dengan setoran tetap tiap bulan, keberangkatan nasabah terjamin
dengan asuransi jiwa, apabila penabung meninggal dunia, maka ahli waris
otomatis dapat berangkat. Tabungan haji Arafah juga menjamin nasabah
untuk memperoleh porsi keberangkatan (sesuai dengan ketentuan Departemen
Agama) dengan jumlah dana Rp 32.670.000 (Tiga puluh dua juta enam ratus
tujuh puluh ribu rupiah), karena Bank Muamalat telah on-line dengan Siskohat Departemen Agama Republik Indonesia. Tabungan haji Arafah memberikan keamanan lahir batin karena dana yang disimpan akan dikelola secara Syari’ah.
d. Deposito Mudharabah
Merupakan
jenis investasi bagi nasabah perorangan dan Badan Hukum dengan bagi
hasil yang menarik. Simpanan dana masyarakat akan dikelola melalui
pembiayaan kepada sektor riil yang halal dan baik saja, sehingga
memberikan bagi hasil yang halal. Tersedia dalam jangka waktu 1, 3, 6 dan 12 bulan.
e. Deposito Fulinves
Merupakan
jenis investasi yang dikhususkan bagi nasabah perorangan, dengan jangka
waktu enam dan 12 bulan dengan nilai nominal minimal Rp 2.000.000,-
atau senilai USD 500 dengan fasilitas asuransi jiwa yang dapat
dipergunakan sebagai jaminan pembiayaan atau untuk referensi Bank
Muamalat. Nasabah memperoleh bagi hasil yang menarik tiap bulan.
f. Giro Wadi‘ah
Merupakan
titipan dana pihak ketiga berupa simpanan giro yang penarikannya dapat
dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet, giro, dan
pemindahbukuan. Diperuntukkan bagi nasabah pribadi maupun perusahaan
untuk mendukung aktivitas usaha. Dengan fasilitas kartu ATM dan Debit,
tarik tunai bebas biaya di lebih dari 8.888 jaringan ATM BCA/PRIMA dan
ATM Bersama, akses di lebih dari 18.000 Merchant Debit BCA/PRIMA dan fasilitas SalaMuamalat. (phone banking 24 jam untuk layanan otomatis cek saldo, informasi history transaksi, transfer antar rekening sampai dengan 50 juta dan berbagai pembayaran).
g. Dana Pensiun Muamalat
Dana
Pensiun Muamalat dapat diikuti oleh mereka yang berusia minimal 18
tahun, atau sudah menikah, dan pilihan usia pensiun 45-65 tahun dengan
iuran sangat terjangkau, yaitu minimal Rp 20.000 per bulan dan
pembayarannya dapat didebet secara otomatis dari rekening Bank Muamalat atau dapat ditransfer dari Bank
lain. Peserta juga dapat mengikuti program WASIAT UMMAT, dimana selama
masa kepesertaan, peserta dilindungi asuransi jiwa sebesar nilai
tertentu dengan premi tertentu. Dengan asuransi ini, keluarga peserta
akan memperoleh dana pensiun sebesar yang diproyeksikan sejak awal jika
peserta meninggal dunia sebelum memasuki masa pensiun.
2. Produk Penanaman Dana (Invesment Product)
a. Konsep Jual Beli
1) Murabahah
Adalah
jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang
disepakati. Harga jual tidak boleh berubah selama masa perjanjian.
2) Salam
Adalah pembelian barang yang diserahkan di kemudian hari dimana pembayaran dilakukan di muka/tunai.
3) Istishna
Adalah jual beli barang dimana Shani’ (produsen) ditugaskan untuk membuat suatu barang (pesanan) dari Mustashni’ (pemesan). Istishna’ sama dengan Salam
yaitu dari segi obyek pesanannya yang harus dibuat atau dipesan
terlebih dahulu dengan ciri-ciri khusus. Perbedaannya hanya pada sistem
pembayarannya yaitu Istishna’ pembayaran dapat dilakukan di awal, di tengah atau di akhir pesanan.
b. Konsep Bagi Hasil
1). Musyarakah
Adalah
kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu,
dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan
bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung sesuai kesepakatan.
2). Mudharabah
Adalah kerjasama antara bank dengan Mudharib (nasabah) yang mempunyai keahlian atau keterampilan untuk mengelola usaha. Dalam hal ini pemilik modal (Shahibul Maal) menyerahkan modalnya kepada pekerja/pedagang (Mudharib) untuk dikelola.
c. Konsep Sewa
1). Ijarah
Adalah perjanjian antara bank (muajjir) dengan nasabah (mustajir) sebagai penyewa suatu barang milik bank dan bank mendapatkan imbalan jasa atas barang yang disewakannya.
2). Ijarah Muntahia Bittamlik
Adalah perjanjian antara Bank (muajjir) dengan nasabah sebagai penyewa. Mustajir/penyewa
setuju akan membayar uang sewa selama masa sewa yang diperjanjikan dan
bila sewa selama masa sewa berakhir penyewa mempunyai hak opsi untuk
memindahkan kepemilikan obyek sewa tersebut.
3. Produk Jasa (Service Products)
a. Wakalah
Berarti penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandat. Secara teknis Perbankan, Wakalah
adalah akad pemberian wewenang/kuasa dari lembaga/seseorang ( sebagai
pemberi mandat) kepada pihak lain (sebagai wakil) untuk melaksanakan
urusan dengan batas kewenangan dan waktu tertentu. Segala hak dan
kewajiban yang diemban wakil harus mengatasnamakan yang memberikan
kuasa.
b. Kafalah
Merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung. Dalam pengertian lain, kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.
c. Hawalah
Adalah
pengalihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang
wajib menanggungnya. Dalam pengertian lain, merupakan pemindahan beban
hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal ‘alaih atau orang yang berkewajiban membayar hutang.
d. Rahn
Adalah
menahan salah satu milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang
diterimanya. Barang yang ditahan tersebut memiliki nilai ekonomis,
sehingga pihak yang menahan memperoleh jaminan untuk dapat mengambil
seluruh atau sebagian piutangnya. Secara sederhana rahn adalah jaminan hutang atau gadai.
e. Qardh
Adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali. Menurut teknis Perbankan, qardh
adalah pemberian pinjaman dari Bank ke nasabah yang dipergunakan untuk
kebutuhan mendesak, seperti dana talangan dengan kriteria tertentu dan
bukan untuk pinjaman yang bersifat konsumtif. Pengembalian pinjaman
ditentukan dalam jangka waktu tertentu (sesuai kesepakatan bersama)
sebesar pinjaman tanpa ada tambahan keuntungan dan pembayarannya
dilakukan secara angsuran atau sekaligus.
1. Jasa Layanan (Services)
a. ATM
Layanan
ATM 24 jam yang memudahkan nassabah melakukan penarikan dana tunai,
pemindahbukuan antara rekening, pemeriksaan saldo, pembayaran Zakat,
Infaq, Sedekah (hanya pada ATM Muamalat), dan tagihan telepon. Untuk
penarikan tunai, kartu Muamalat dapat diakses di 8.888 ATM di seluruh Indonesia,
terdiri atas mesin ATM Muamalat, ATM BCA/PRIMA dan ATM Bersama, yang
bebas biaya penarikan tunai. Kartu Muamalat juga dapat dipakai untuk
bertransaksi di 18.000 lebih Merchant Debit BCA/PRIMA. Untuk ATM Bersama dan BCA/PRIMA, saat ini sudah dapat dilakukan transfer antara Bank.
b. SalaMuamalat
Merupakan layanan Phone Banking 24 jam dan call center
yang memberikan kemudahan bagi nasabah, setiap saat dan di manapun
nasabah berada untuk memperoleh informasi mengenai produk, saldo dan
informasi transaksi, transfer antara rekening, serta mengubah PIN.
c. Pembayaran Zakat, Infaq dan Sedekah (ZIS)
Jasa
yang memudahkan nasabah dalam membayar ZIS, baik ke lembaga pengelola
ZIS Bank Muamalat maupun ke lembaga-lembaga ZIS lainnya yang bekerjasama
dengan Bank Muamalat, melalui Phone Banking dan ATM Muamalat di seluruh cabang Bank Muamalat.
d. Jasa-jasa lain
Bank Muamalat juga menyediakan jasa-jasa Perbankan lainnya kepada masyarakat luas, seperti transfer, collection, standing instruction, Bank draft, referensi Bank.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar